Kamis, 19 November 2009

Ujian diJalan Dakwah


Jalan dakwah memang merupakan jalan yang penuh ujian, rintangan dan
tantangan. Betapa tidak. Sebagai manusia saja , tanpa dikaitkan dengan
urusan keimanan tidak pula urusan dakwah, seseorang pasti berhadapan
dengan ujian dan tantangan, apalagi sebagai manusia mukmin. " Apakah
manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya karena mereka
mengatakan kami beriman, padahal mereka belum diuji?" (Qs. 29:1-2).
Apalagi bila orang mukmin itu berdakwah. Maka ujiannya pun akan lebih
berat lagi.

Secara garis besar ujian dakwah dapat dibagi dua: ujian berupa
kesenangan, kebahagiaan dan kenikmatan serta ujian dalam bentuk
penderitaan, kenestapaan dan kesulitan. Allah SWT telah mengingatkan
hal ini dalam ayat – ayatnya "Kami akan menguji kamu dengan keburukan
dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar – benarnya) dan hanya kepada
kamilah kamu dikembalikan" (Qs. 21:35)
Contoh konkrit kedua bentuk ujian ini tertera dalam firmanNya " Dan
ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit,
lagi tertindas dibumi (Mekah, kamu takut orang – orang (Mekah) akan
menculik kamu maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan
dijadikanNya kamu kuat dengan pertolonganNya dan diberi Nya kamu rezki
dari yang baik-baik agar kamu bersyukur (Qs.8:26). Pada ayat ini Allah
SWT menggambarkan bahwa kaum muslimin semula diuji dengan intimidasi
yang dilakukan oleh orang – orang kafir. Lalu, Allah menolong dan
memberikan kemenangan kepada mereka. Allah juga memberi mereka rezki.
Kemenangan dan rezki itu adalah ujian untuk menakar kemampuan syukur
kaum muslimin.

Banyak bentuk rintangan dan ujian yang dihadapi seorang da'iyah,
diantaranya adalah
1. Rongrongan keluarga
Anak, isteri,suami,ayah atau ibu bisa menjadi aspirasi atau penambah
semangat berdakwah. Tetapi disaat yang sama mereka juga dapat menjadi
batu sandungan bagi seorang da'i. Mereka berpotensi memalingkan garis
da'wah, mengurangi intensitas interaksi seseorang dengan da'wah atau
bahkan menghentikan sama sekali gerak da'wah seorang da'i. Bisikan,
tuntutan atau ambisi – ambisi keluarga boleh jadi menyebabkan
seseorang berat kaki untuk melangkah kaki untuk melaksanakan program –
program da'wah. Begitu juga keadaan keluarga baik dalam sisi ekonomi,
kesehatan dan sebagainya dapat juga menjadi factor penghambat
keterlibatan seseorang dalam aktifitas da'wah. Pada saat perang tabuk,
ada sahabat yang nyaris tidak turut serta dalam jihad karena ingin
menikmati kehangatan bersama istrinya. Akan tetapi ia kemudian
tersadar akan kesulitan dan penderitaan yang dialami oleh Rasulullah
SAW dan para sahabatnya dalam perjuangan. Untuk itu Allah SWT,
mengingatkan kita : "Hai orang – orang yang beriman, sesungguhnya
diantara istri – istrimu dan anak – anakmu ada yang menjadi musuh
bagimu, maka berhati – hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu
memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya
hartamu dan anak – anakmu hanyalah cobaan (bagimu) dan disisi Allahlah
pahala yang besar "(Qs. 64:14-15)

2. Kedengkian sesama muslim
"Batu sandungan" juga bisa datang dari sesama muslim atau bahkan da'i.
bentuknya, semisal sikap iri dan dengki atas keberhasilan yang dicapai
oleh seorang da'i. kata batu sandungan sengaja saya beri tanda kutip
karena hal itu tidak selalu berakibat buruk bagi orang yang didengki,
sebaliknya bagi si pendengki belum tentu menjadi hal yang produktif
dan mengantarkan kepada apa yang menjadi keinginannya.
Ada sebuah hadits, yang meskipun saya belum dapat memastikan
kesahihannya, namun maknanya tidak keluar dari apa yang diisampaikan
quran dan sunah, yang mengatakan :" seorang mukmin berada diantara
lima ujian berat : sesama mukmin yang iri kepadanya, munafik yang
membencinya, kafir yang terus memeranginya, hawa nafsu yang terus
merintanginya, dan syetan yang menyesatkannya" (Al Firdaus Bima'tsuril
Khitab)
Hadangan, kekejian dan makar orang – orang kafir sejak awal sejarah
dawah yang digulirkan oleh nabi – nabi sebelum Rasulullah SAW, orang –
orang kafir selalu berdiri sebagai penghadang da'wah. Untuk
menghentikan laju da'wah, mereka melakukan berbagai upaya dari mulai
rayuan hingga pembunuhan. Dalam Quran, Allah SWT banyak mengingatkan
kita, para da'i tentang makar orang-orang kafir ini. Salah satu
hikmahnya adalah agar kita senantiasa memiliki kesiapan mental saat
menghadapinya. "Dan kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang
pemberi peringatanpun, melainkan orang – orang yang hidup mewah
dinegeri itu berkata :" sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu
diutus untuk menyampaikannya" (QS.34:34)
Di ayat lain dinyatakan, mereka menjawab : "Sesungguhnya kami bernasib
malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru
kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapatkan
siksa yang pedih dari kami"(Qs 36:18)
Khusus untuk Rasulullah SAW, Allah menggambarkan ujian dalam bentuk
makar orang-orang kafir dalam firmanNya, "Dan (ingatlah) ketika
orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk
menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka
memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah
sebaik-baik pembalas tipu daya" (Qs 8:30)
Allah juga menegaskan bahwa orang – orang kafir tidak akan pernah
berhenti memusuhi da'wah, Firmannya : "Mereka tidak henti-hentinya
memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu
(kepada kekafiran) seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad
diantara kamu dari agamanya lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka
itulah yang sia-sia amalannya didunia dan diakhirat dan mereka itulah
penghuni neraka mereka kekal didalamnya"(Qs 2:217)
Biasa juga orang kafir membuat jebakan yang dikamuflase dengan
kepentingan atau keuntungan da'wah. Ini pernah dialami oleh Rasulullah
Saw sendiri. Orang – orang kafir Quraisy menawarkan kepada Rasulullah
SAW agar beliau bersedia mengusap-usap patung mereka. Mereka berjanji
jika beliau berkenan melakukannya mereka akan masuk Islam dan
mengikuti Rasulullah Saw. Hampir saja beliau terpengaruh dan mengikuti
tawaran mereka, jika saja Allah SWT tidak segera mengingatkan beliau
dengan firmanNya : "Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu
dari apa yang telah kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang
lain secara bohong terhadap kami dan kalau sudah begitu tentulah
mereka mengambil kamu menjadi sahabat yang setia. Dan kalau kami
tidak memperkuat hatimu, niscaya kamu hampir condong sedikit kepada
mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah, kami akan rasakan
kepadamu (siksaan) berlipat ganda didunia ini dan begitu (pula
siksaan) berlipat ganda sesudah mati dan kamu tidak akan mendapat
seorang penolongpun terhadap kami"(Qs 17:73-75)

3. Kekejaman Penguasa Zalim
Penguasa zalim juga memiliki andil dalam merintangi da'wah. Baik dia
penguasa kafir maupun penguasa yang mengaku muslim. Dalam sejarah
tercatat para ulama yang menjadi korban kekejaman penguasa zalim.
Sekedar menyebut contoh,Sa'id bin Zubair sang ulama tabi'in, Imam
Ahmad, Imam Ibnu Taimiyah. Dan tidak perlu jauh – jauh, dinegeri kita
sendiri hal itu dapat kita saksikan dan rasakan. Ditahun 80-an tidak
sedikit para da'i yang dijebloskan ke bui dan diintimidasi saat
mengingatkan khalayak terhadap bahaya kristenisasi atau saat menentang
cara-cara paksa program KB. Bahkan hingga hari ini, masih terjadi
penangkapan terhadap da'i yang oleh sebagian kalangan dinamakan aksi
pemberantasan terorisme. Tentu saja masih banyak jenis dan bentuk
rintangan dan ujian dijalan da'wah. Karenanya, ingin berda'wah tapi
tidak mau berhadapan dengan kesulitan?mimpi kali ye? Allahu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar