Katakanlah misal kita termasuk yang berjuang mati-matian untuk dakwah ini dan menjaga agar dakwah tetap suci, suatu saat tiba-tiba ada kabar yang menceritakan bahwa kita adalah pelaku noda-noda tersebut, dikatakan terlibat vmj [misal]. Dan seluruh ikhwah membicarakan kita. Sedih, marah, kecewa, malu, sakit hati, shock…tentu saja semua rasa itu pasti ada. Sangat menyakitkan…..dan bisa jadi tidak hanya mengedownkan secara mental, hati, fisik bahkan keimanan. Ibarat pepatah, kita yang menjaga tanaman, justru kita sendiri yang termakan oleh tanaman itu [ini tanaman monster kali ^_^]. Betapa malunya dibicarakan oleh seluruh ikhwah, iya kalau dibicarakan baik…lha ini jelek dan kita tidak pernah ada “perasaan merah jambu” atau mengekspresikannya ke lawan jenisnya kita..wuih berhari-hari bahkan bisa jadi berminggu-minggu kita akan shock dan menguras air mata. Tapi apa mau dikata kita bukan Aisyah yang pernah terkena fitnah kemudian Allah membelanya dengan menurunkan ayat-ayatNya. Kita memang tidak punya kekuatan untuk membela diri..tapi setidaknya masih ada kekuatan untuk mengucap “innalillahi wainna ilaihi raaji’un”. Bersyukur syaithan gagal menggoda kita dengan VMJ, tapi Jangan sampai syaithan tertawa karena berhasil menggoyahkan keimanan kita karena berita fitnah VMJ tersebut!
Fitnah itu mungkin cukup menampar kita dengan sangat amat keras sekali. Namun Sekuat apa pun usaha manusia menjaga diri agar terhindar dari fitnah, kadang ia perlu diuji apakah ia sanggup berada dalam keadaan yang paling ia benci. Sedih, kecewa, marah itu manusiawi…Berlarut2 dalam perasaan itu pun manusiawi. Saat itu mungkin kita akan terhina dihadapan manusia dan larut dalam kesedihan dan kekecewaan yang tak juga bisa diusir. Orang-orang memang menganggap kita adalah noda-noda dakwah. Dan itu sangat menyakitkan karena kita tidak seperti yang diberitakan dalam fitnah itu. Sepahit apapun itu, cobalah berpikir lagi, apakah kita mau hidup terus dengan kata orang? VMJ memang harga mati yang tidak bisa ditawar buat kesucian dakwah ini, tapi mau gimana lagi kalau kita tidak punya kekuatan untuk membela diri??
Fitnah adalah ujian kesabaran, ujian keimanan dan ujian sebesar apa rasa syukur kita pada Yang Pengasih serta bisa menjadikannya sebagai bahan untuk evaluasi diri. Bersyukurlah dengan fitnah dunia. Lebih baik terfitnah di dunia daripada di akhirat. Fitnah adalah ujian kesabaran. Dalam buku “sabar”, kata temanku [gak baca sendiri] disebutkan “Parameter kesabaran seseorang adalah ketika dia tidak menceritakan musibah/ujian yang sedang dialaminya ke orang lain.” Luar biasa!! Memang harusnya kita diam saja dan hanya bercerita kepada Yang Diatas mengenai kesedihan ini.
Kata Ibnu Qoyyim, “Jika kau ditimpa musibah, sabarlah dengan kesabaran yang mulia maka kamu akan mulia dengannya. Jika kau mengadukannya kepada manusia sama saja kau mengadukan Yang Maha Pengasih kepada yang tidak memilik kasih sayang. ” Astaghfirullah…ampuni hamba-Mu yang hina ini ya Rabb…
Ada kata-kata menarik dalam buku La Tahzan;
“Demi usiamu
Bukanlah tidak akan terjadi hal yang tak kau sukai betapa pun engkau berhati-hati dan menghindarinya
Begitu pula dengan hal yang kau sukai betapa pun engkau antusias berharap
Kebanyakan hal yang ditakuti manusia itu terjadi dan datangnya kesedihan itu bukanlah tidak membawa manfaat”
Selain itu fitnah adalah ujian keimanan pada keadaan yang paling tidak kita sukai, apakah kita akan semakin sabar dan meningkat iman dan ketaqwaanya ataukah justru akan membelot dan bermaksiat. Kata Ahmad bin Yusuf dalam buku La Tahzan, “Jika pikiran seseorang bersandar pada penciptanya, niscaya dia akan mengetahui bahwa tidaklah sekali-kali Allah mengujinya, melainkan dengan hal-hal yang pasti akan membawa pahala baginya atau menghapuskan dosa besar darinya.”
Jadikan fitnah itu sebagai bahan evaluasi bagaimana kita berinteraksi dengan para ikhwan. Selanjutnya lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan ikhwan yang tidak jelas apalagi interaksi yang tidak ada hubungannya dengan dakwah. Karena kadang bukan akhwat yang salah, tapi ikhwan-ikhwan saja yang kurang jelas. Lebih baik ditakuti para ikhwan daripada dipuji-puji oleh mereka.
Ayo bangkit wahai jiwa yang hina, hisablah diri sebelum dihisab. Biarlah hina dihadapan makhluk tapi jangan hinakan diri pada Allah. Semangat!!! La tahzan! Innallaha ma’ana….semoga Allah mengampuni dosa-dosaku dan dosa orang-orang yang sudah menyebarkan aib dan fitnah ini.
Jazakumullah buat teman yang mengabarkan kabar ini dan teman2 yang menguatkanku. Semoga bisa menjadi bahan evaluasi buat kita bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar